5 Tips Mengobati Rasa Putus Asa pada Anak

Kamis, 03 Oktober 2019



Anak-anak sering memiliki beragam keinginan. Bila tidak terwujud, biasanya akan menunjukkan reaksi negatif, seperti ngambek atau marah. Orang tua harus selektif menuruti kemauan anak karena memang tidak semua keinginannya harus dituruti. Sangat bijak bila sejak dini anak dibuat mengerti mengapa tidak semua keinginannya dapat terwujud.

Tercapainya semua harapan dan cita-cita adalah impian semua orang, termasuk anak-anak. Bila telah berusaha dan keinginan belum terwujud, sebagian anak-anak tidak dapat terhindar dari rasa kecewa dan putus asa.

Putus asa adalah hilang harapan. Juga menggambarkan sebuah ketidakberdayaan untuk memperbaiki yang telah sirna. Saat kegagalan tidak disikapi dengan baik dan putus asa menyerang maka anak bisa stres dan akan  mengantarkannya pada kesedihan tak berkesudahan. Orang tua harus tanggap bila anak terlihat putus asa  dan tidak semangat lagi mengupayakan apa yang diinginkannya.

Bagaimana tips membantu anak mengobati rasa putus asanya?

1. Ikhlas Atas Semua Ketetapan Allah

Semua yang terjadi telah sesuai skenario Allah. Dialah sebaik-baik pengatur dan pelindung kita. Mengambil hikmah atas setiap kejadian adalah langkah tepat agar rasa putus asa dapat terobati. Bukankah percuma saja tidak ikhlas, toh semua sudah terjadi. Meskipun tidak mudah memahamkan hal ini kepada anak, sedini mungkin harus berlatih menjaga keikhlasan agar hidupnya tenang.

2. Mencari Sebab Mengapa Bisa Gagal

Kadang kita tidak mengerti mengapa bisa gagal, apalagi seorang anak. Meskipun memang kegagalan adalah takdir, bila kita berusaha mencari sebabnya maka kita akan lebih mudah mengambil hikmah dari setiap kegagalan. Mencari sebab kegagalan tentu tidak bermaksud untuk mencari kambing hitam, tetapi untuk mengevaluasi agar langkah yang keliru di masa lalu tidak terulang kembali. Anak yang terbiasa mengambil hikmah dan pelajaran atas semua kegagalan akan lebih ringan dalam melangkah dan mengambil sikap.

3. Mengatur Kembali Langkah

Kecewa dan putus asa memang manusiawi. Keduanya adalah hal lumrah yang kita alami saat terpuruk. Akan tetapi, bila kita ingin meraih cita-cita, maka langkah baru harus ditempuh, rencana baru harus disusun, strategi baru harus diatur, dan tekad baru harus dikuatkan. Hal inilah yang pelan-pelan harus diajarkan kepada anak. Berpegang pada pengalaman kegagalan yang lalu, ajak anak mengatur rencana lagi.

4. Tidak Mengeluh

Mengeluh tidak akan memperbaiki keadaan. Setiap kegagalan yang disikapi dengan mengeluh hanya akan memunculkan masalah baru. Ajak anak belajar menghadapi semua yang terjadi dengan lapang dada. Merelakan semua yang hilang meski tak kembali justru akan memunculkan semangat baru.

5. Berdoa dan Memohon Petunjuk

Yang paling utama dilakukan ketika putus asa adalah tidak lupa berdoa kepada Allah Sang Pembuka Jalan. Memohonlah kepada-Nya agar jalan petunjuk terhampar di depan mata. Apalah gunanya ikhtiar tanpa doa. Bagai sayur tanpa garam: hambar dan tidak menggugah selera. Anak yang merasa putus asa dan tidak semangat lagi harus dikuatkan mentalnya dengan banyak berdoa.

Mengobati rasa putus asa bukan hal mudah, tetapi akan jadi mudah bila ada kesungguhan menata masa depan dan memperbaiki segala kesalahan. Anak-anak yang merasa putus asa harus mendapatkan pendampingan untuk menguatkan hati dan menambah semangatnya. Buatlah dirinya  yakin, masih terbentang jalan dan harapan untuk menjadi lebih baik pada masa yang akan datang. Semangat saja terus meningkatkan kualitas diri maka putus asa akan terkikis bersama waktu. Yakinkan anak, selalu ada jalan bagi mereka yang gigih berusaha.

x

5 Cara Membantu Anak Mengatasi Rasa Minder



Membuat anak memiliki rasa percaya diri tidak selalu mudah. Meskipun sudah diupayakan, rasa minder itu tidak selalu mudah dihilangkan. Orang tua kadang sudah melakukan banyak cara, seperti menyertakan dalam berbagai lomba, mengikuti club tertentu, hingga berani membayar mahal mengikuti suatu komunitas.

Mari kita mencoba menggali, kira-kira apa penyebab rasa minder itu datang dan kemudian merajai seluruh isi kepala anak. Ternyata, hal terbesar penyebab minder adalah kurangnya rasa syukur atas segala pemberian Allah. Kita kadang lalai mengajarkan bagaimana cara bersyukur dan terlalu fokus melihat kelebihan orang lain, hingga lupa bahwa anak  pun punya kelebihan. Bukankah setiap kekurangan selalu bersanding dengan kelebihan? Tidak mungkin seorang anak mempunyai kekurangan saja atau kelebihan saja.

Selain itu konsep diri negatif juga menjadi penyebab munculnya rasa minder. Merasa dirinya bukan siapa-siapa, tidak memiliki prestasi dan tidak punya peran di lingkungannya adalah beberapa hal yang tidak sadar sering dirasakan anak. Rasa ini sangat mengganggu anak dalam pergaulan, terlebih bila yang menjadi sumber minder adalah kondisi fisik anak dan kondisi ekonomi orang tua. Orang tua harus meyakinkan anak bahwa setiap anak bisa berprestasi, bagaimanapun kondisinya.

Lantas, bagaimana mengatasinya?

1. Ikhlas

Menghadirkan rasa ikhas dalam hati anak untuk mengusir rasa minder memang butuh perjuangan dan butuh proses. Hal ini karena orang tua belum tentu menghadirkan rasa ini di hati. Menyadari bahwa semua yang terjadi adalah takdir harus menjadi yang utama diperhatikan untuk dipahamkan kepada anak sejak sejak dini.

2. Menghargai Pencapaian Diri

Syukuri sekecil apa pun prestasi yang telah diraih anak. Bukankah langkah besar dimulai dari langkah kecil? Pencapaian besar dimulai dari pencapaian-pencapaian kecil yang konsisten diupayakan. Buatlah anak mengerti bahwa orang tua merasa bangga atas pencapaiannya. Tunjukkan pula bahwa orang tua menghargai jerih payahnya, walaupun mungkin memang tidak seberapa.

3. Meningkatkan Kualitas Diri

Ajakan anak memuulai dengan menerima kekurangan diri. Bantu anak menghargai dirinya sendiri dengan terus belajar dan belajar. Yakinkan dirinya bahwa dia layak menjadi lebih baik. Bantu anak tingkatkan pengetahuan bagaimanapun kondisinya. Dengan cara itu, wawasan kita akan terus bertambah dan sedikit demi sedikit akan menumbuhkan rasa percaya diri.

4. Berkumpul Dengan Teman-teman yang Selalu Saling Menyemangati

Berkumpul dengan teman-temannya yang setia dengan kritik membangunnya dapat menjadi dukungan berarti bagi anak. Sebaliknya, teman yang kata-katanya destruktif dan menjatuhkan mental akan menghambat langkah anak dan makin membuat dirinya merasa tak berarti.

5. Tidak Perlu Menjadi Anak yang Perfeksionis

Boleh saja punya cita-cita, tetapi bila terlalu tinggi tentu akan menyiksa diri. Akan lebih bijaksana bila anak dibantu menyederhanakan keinginan dan cita-citanya, tetapi semangat yang harus tetap tinggi. Tidak perlu menyalahkan dirinya sendiri bila belum mampu tergapai semua yang ingin diraih. Juga tidak perlu terlalu kecewa bila belum sampai pada prestasi tertentu. Tidak atau belum mampu meraih cita-cita bukan ukuran kesuksesan seseorang.

Demikian beberapa upaya yang bisa ditempuh untuk mengatasi rasa minder pada anak.

Tidak perlu terburu-buru ingin menikmati hasil karena butuh proses yang panjang, butuh konsistensi, dan butuh kemauan keras, baik dari anak maupun orang tua untuk melepaskan diri dari jeratan rasa minder.

5 Cara Mengatasi Persaingan Antar Saudara Kandung (Sibling Rivalry)

Rabu, 02 Oktober 2019



Apa yang dimaksud dengan persaingan antar saudara kandung?
Mengapa ada persaingan?
Apa penyebab persaingan?
Bagaimana cara mengatasinya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sudah lama mengusik pikiran saya. Apakah memang ada persaingan antar saudara? Ternyata, persaingan itu tidak selalu dilakukan secara terang-terangan. Kompetisi antar saudara kandung umumnya untuk mendapatkan cinta dan perhatian kedua orang tua. Persaingan bisa berupa kecemburuan, pertengkaran, maupun perselisihan.
Apa saja penyebab persaingan antar saudara?


1. Anak Merasa Kurang Perhatian

Anak-anak di segala usia menginginkan perhatian penuh dari orang tua. Sampai akhir usia balita, anak ingin perhatian terus menerus dari orangtua. Oleh karena itu, orang tua perlu cermat mengatur waktu agar perhatian pada anak bisa maksimal dan tidak condong kepada salah satu anak.

2. Anak Merasa Hubungan dengan Orang Tua Terancam karena Hadirnya Anggota Baru

Kehadiran adik yang baru lahir sering membuat kakak cemburu. Hal ini karena perhatian seluruh anggota keluarga, terutama ibu, tercurah kepada adik baru. Waktu dan hampir seluruh tenaga ibu dan ayah tercurah keoada adik bayi sehingga kakak lupa atau kurang diperhatikan.

3. Anak Mengalami Stres dalam Kehidupannya.

Jangan dikira anak tidak bisa stres.
Hubungan pertemanan yang bermasalah, didikan orang tua yang terlalu keras, atau masalah pelajaran sekolah bisa jadi penyebab stres. Tekanan jadi terasa berat karena anak tidak mengerti cara mengelola stres dan cara mengatasinya. Terlebih lagi, orang tua kurang tanggap dengan kondisi anak maka lengkaplah sudah, anak jadi stres.


4. Cara Orang Tua Memperlakukan Anak dan Menangani konflik

Orang tua sering tidak menyadari ada kecenderungan menyayangi salah satu di antara anak-anak. Hal ini dapat menimbulkan konflik. Bila konflik benar-benar terjadi, orang tua harus bijaksana dalam bersikap dan tidak memihak salah satu.

Apa yang sebaiknya dilakukan orang tua untuk mencegah dan mengatasi persaingan antar saudara? Berikut ini ulasannya.

1. Tidak Membandingkan Anak yang Satu dengan yang Lain




Setiap anak memiliki keunikan dan ciri khas sendiri-sendiri. Karakter mereka berbeda meskipun tinggal bersama. Karenanya, orang tua tidak perlu membanding-bandingkan kekurangan atau kelebihan anak karena masing-masing tentu memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri.

Baca juga:


2. Membiarkan Anak Menjadi Diri Mereka Sendiri




Keinginan membentuk kepribadian yang baik pada anak sering membuat orang tua tidak tahu atau tidak peduli bahwa setiap anak memiliki potensi yang baik. Akan berkembang menjadi baik bila orang tua memberi arahan yang konstruktif, bukan yang menjatuhkan.

Baca juga:


3. Membuat Anak Mampu Bekerja Sama



Melatih anak mampu bekerja sama harus diupayakan sejak dini. Ajak mereka mem├áhami 
perbedaan, mematuhi arahan, dan belajar mengerti konsekuensi.


4. Menumbuhkan Rasa Saling Memiliki



Nuansa kebersamaan dan kasih sayang harus dihidupkan orang tua di rumah. Anak-anak harus terbiasa berbagi, terbiasa memaklumi kesalahan, dan belajar memahami kebiasaan antarsaudara sehingga dengan demikian anak akan memiliki ikatan batin yang kuat satu sama lain.

5. Bersikap Adil, tetapi Disesuaikan dengan Kebutuhan



Sering kali orang tua keliru memaknai kata adil. Adil tidak selalu sama dalam segala hal, tetapi disesuaikan dengan situasi dan usia anak. Sedini mungkin anak dilatih untuk tidak iri atas apa pun pemberian orang tua karena semua akan mendapatkannya bila tiba saat yang tepat menurut orang tua.
Menjadi orang tua tidak ada sekolahnya. Kita harus belajar setiap saat tanpa jeda membersamai anak tumbuh dan berkembang. Tugas orang tua memberi lingkungan yang kondusif bagi anak agar tidak ada celah bagi munculnya persaingan antar saudara. Biarkan anak-anak  berlomba hanya dalam kebaikan. Bukan untuk bersaing, tetapi untuk meningkatkan kualitas diri mereka dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Tulisan ini  kupersembahkan khusus untuk kelima buah hati yang teramat ibu sayangi. Semoga kelak kalian baca tulisan ini. Semoga Allah menjaga kalian berlima agar selalu dalam hubungan yang baik dan penuh cinta, sepanjang hayat.

5 Tips Antigalau Pilih Ekskul untuk Anak.

Selasa, 01 Oktober 2019


Ekstrakurikuler di sekolah sebagai wadah pengembangan bakat dan sarana belajar mengatur waktu adalah sarana refreshing yang mendidik. Anak-anak melakukan berbagai kegiatan di luar mata pelajaran sekolah yang dapat membuat mereka menggali banyak hal dan ilmu baru.

Ekstra kurikuler di sekolah anak kami: Hanum Aulia Rusydaa kelas 5 dan Muhammad Hanif Ihsan Rosyadi kelas 1, SD Muhammadiyah 12 Surabaya, Jawa Timur, terbagi menjadi tiga jenis, yaitu ekstra wajib, ekstra pilihan, dan ekstra mandiri.

1. Ekstra Wajib. 

Ekstra wajib di sekolah mereka adalah hizbul wathan (semacam pramukanya Muhamnadiyah) dan bela diri tapak suci. Mulai kelas 3, anak-anak baru mulai ada kegiatan ini.

2. Ekstra Pilihan

Ekstra pilihan dilaksanakan pada hari Senin atau Selasa. Pilihannya pun beragam, antara lain dokter cilik, tahfidz, da'i cilik, desain grafis, painting, dan memasak. 

3. Ekstra Mandiri

Ekstra mandiri dilaksanakan pada hari Sabtu. Wali murid yang anaknya bersedia mengikuti ekstra mandiri harus membayar sendiri dan tidak dibiayai  sekolah. Pilihannya adalah Tahfidz, Bahasa Inggris, Futsal, Panahan, Robotika, dan Cinematografi.

Khusus ekstra mandiri, para siswa diberi kebebasan. Bila ingin memanfaatkan fasilitas sekolah dan memanfaatkan waktu hari Sabtu, salah satu ekstra mandiri bisa dipilih. Namun, bila menginginkan kebebasan bermain pada hari Sabtu, tidak ikut pun tidak apa-apa. Hanum sejak kelas lima mulai tidak mau menghabiskan hari  Sabtunya untuk ekstra mandiri. Dia ingin menikmati hari setelah setiap hari sekolah full day. Sayangnya, Hanif jadi ikut-ikutan tidak mau ikut, padahal baru kelas satu SD
Berdasarkan pengalaman Hanum sampai memasuki kelas lima ini, kami lebih punya bekal untuk Hanif dalam memilih ekstrakurikuler. Harus ada tips khusus agar tidak bingung saat memilih. Apa saja tips itu?

1. Sesuaikan dengan Bakat dan Minat



Mengapa harus menyesuaikan bakat dan minat? Terkadang, anak memiliki bakat, tetapi tidak minat mengikuti. Atau memiliki minat yang tinggi, tetapi tidak bakat. Yang ideal tentu yang sesuai dengan bakat dan minat. Namun, karena sering kali anak belajar sesuai mood-nya maka penting sekali memperhatikan minatnya. Tidak sedikit anak sukses karena minatnya, meskipun tidak bakat. Dia akan belajar dan terus berlatih tanpa paksaan karena pilihan sesuai dengan minatnya.

2. Pastikan Bisa Menambah Pengalaman Baru



Ekstrakurikuler harus bisa menambah pengalaman baru. Ilmu dan pengalaman di tempat ekstrakurikuler belum tentu bisa dengan mudah diperoleh di kelas. Oleh karena itu, mencari sebanyak-banyaknya pengalaman sangat dianjurkan bagi anak.

3. Jangan Ikut-ikutan Teman



Penting diperhatikan, anak-anak tentu senang berkegiatan bersama teman-temannya. Namun, jangan sampai memilih karena ikut-ikutan. Kesenangan, selera, minat, dan bakat setiap anak tidak selalu sama, meskipun sering bermain bersama. Orang tua perlu memberi pengertian kepada anak agar memilih sesuai  kemampuan dan keinginannya sendiri.

4. Tidak Membuat Prestasi Sekolah Menurun



Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler jangan sampai membuat anak kelelahan hingga tidak sempat belajar atau berprestasi di sekolah. Tentu hal ini sangat tidak dianjurkan. Anak-anak harus mengutamakan prestasi akademik.

5. Amati Perkembangannya




Anak-anak tidak selalu memiliki keinginan yang menetap. Amati dulu perkembangannya dan beri waktu satu bulan untuk menjalani. Bila anak suka dan giat belajar, lanjutkan. Bila anak terlihat semangatnya menurun, lebih baik minta izin kepada guru untuk ganti yang baru. 

Nah, tidak sulit, bukan? Berdasarkan pengalaman Hanum, mengikuti ekstra yang tidak sesuai minatnya hanya membuatnya malas dan lebih sensitif. 

Lebih baik membuka pintu dialog dan menggali apa kemauan anak. Orang tua mengarahkan, tetapi harus melihat kondisi anak.